Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Harga telur sejak beberapa waktu terakhir anjlok. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah menjelaskan beberapa faktor penyebabnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa tengah, Muhammad Arif Sambodo Dia menyebut harga normal telur yakni sekitar Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per kilogram.

"Tetapi di pasar saat ini harganya Rp 18 ribu. Tapi itu harga di pasar lho ya. Kalau harga di peternak mungkin lebih rendah," katanya di Kudus, Kamis (23/9/2021)

Arif Sambodo melanjutkan, anjloknya harga telur sudah terasa sejak tiga hingga empat bulan terakhir. Dia membeberkan beberapa faktor.

Pertama, telur yang tergolong musiman sangat berpengaruh pada tingkat permintaan. Menurutnya, memang ada penurunan permintaan telur selama adanya pandemi Covid-19 ini.

Baca: Harga Telur Anjlok Bikin Peternak di Kudus Kelimpungan

Kemudian, faktor kedua karena pakan ternak yang mahal. Ia menilai kuncinya ada pada pengendalian harga pakan. Dia berpendapat ketika harga dapat dikendalikan, mampu menekan biaya produksi."Kuncinya ada di pakan, kalau harga pakan bisa dikendalikan itu bisa menekan cost production sampai 70 persen. Sehingga harga masih bagus dan tidak anjlok. Kemudian yang kedua ya tadi harus ada operasi pasar," ungkapnya.Dalam hal ini pihaknya menyebut peranan penting dari Bulog."Bulog harus ikut berperan karena memiliki fungsi pengendalian harga. Contohnya ketika harga jagung mahal, harus ada operasi pasar. Karena Bulog itu ditugasi dari Mendag (Menteri Perdagangan) untuk menjaga stabilisasi harga," terangnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler