Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Owner Tere Batik, Teresia Leony Widihastuti memilih menggunakan pewarna alami dalam pembuatan batik. Hal itu sebagai bentuk mengusung semangat go green.

Tere-sapaan akrab Teresia Leony Widihastuti mengatakan, dia memulai menekuni pewarnaan alami sejak setahun terakhir. Menurutnya langkah itu diambil untuk mendukung ramah lingkungan.

"Sebenarnya pewarnaan alam itu sudah ada sejak dulu. Pembatik-pembatik juga sudah mencoba. Terus berangsurnya zaman pada pakai pewarna sintetis. Terus berangkat dari situ saya mencoba pewarnaan alami," katanya, Sabtu (13/11/2021).

Menurutnya, proses membatik tetap sama. Yakni dengan cara dicanting. Namun, pewarnaannya menggunakan pewarna alam.

"Jadi ini bukan ecoprint lho ya. Tetap batik tetapi pewarnaannya saja menggunakan pewarna alami," terangnya.

Baca: Motif Batik di Kudus Ini Terinsipirasi dari Gajah Purba

Kepada MURIANEWS, Tere menunjukkan beberapa bahan yang digunakan untuk membuat pewarna alami. Seperti kayu secang, kayu mahoni, dan tumbuhan indigofera.

"Kayu secang itu nanti warnanya jadi ungu. Kayu mahoni nanti warnanya jadi cokelat. Kalau tumbuhan indigofera warnanya jadi biru," sambungnya.

Dia melanjutkan, untuk batik yang dibuatnya itu memiliki beberapa motif. Terdiri dari motif Kudusan yang identik dengan hewan dan bunga."Ada motif kendi Kiyai Telingsing, motif Macan Tutul Muria, motif Kapal Kandas, motif Gula Tumbu, motif Parijoto, dan motif peta Kudus," ungkapnya.Baca: Legenda Batik Bakaran Pati yang Kini jadi Warisan Budaya NasionalProses pembuatan batik menggunakan pewarna alami itu membutuhkan waktu sepekan. Yakni untuk kain berukuran panjang dua meter dengan lebar satu meter.Pihaknya mematok harga Rp 350 ribu hingga Rp 5 juta untuk batik tulis. Sejauh ini pembeli berasal dari Semarang, Jakarta, dan Surabaya."Kebanyakan yang beli orang-orang bank. Rata-rata untuk kado. Beberapa juga ada permintaan dari Afrika dan Australia," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler