Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Owner Tere Batik Kudus, Teresia Leony Widihastuti mengaku sempat terdampak pandemi Covid-19. Dampak itu justru baru dirasakannya sejak dua bulan ini.

Ditemui di tokonya yang berada di Ruko Wijaya Royal Residence nomor 7, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus Tere-sapaan akrab Teresia Leony Widihastuti menceritakan kisahnya.

Menurutnya, omzetnya sebelum pandemi Covid-19 sempat mencapai Rp 50 juta per bulan. Namun, dua bulan ini sempat terjun di bawah Rp 50 juta.

"Dua bulan ini saya merasakan dampaknya. Bukan malah sejak awal pandemi, tetapi malah dua bulan terakhir ini," katanya, Sabtu (13/11/2021).

Bahkan, dua bulan ini pihaknya sempat merumahkan karyawan. Diketahui, Tere memiliki 14 karyawan.

Saat ini ada tujuh yang sudah dirumahkan namun tetap bekerja dari rumah. Sedangkan tujuh lainnya masih bekerja di Tere Batik.

[caption id="attachment_252603" align="alignleft" width="1280"] Proses menggambar dasar batik di Tere Batik Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)[/caption]

Namun, Tere tidak menyerah. Dia mencoba untuk melakukan inovasi demi menutup operasional untuk menggaji karyawannya.

"Saya melakukan inovasi dengan cara mengadakan pelatihan ibu-ibu Dharma Wanita, Bhayangkari, dan ke sekolah-sekolah. Hasil dari pelatihan itu saya gunakan untuk menggaji karyawan. Karena penjualan batik saat ini masih fluktuatif naik turun," terangnya.

Baca: Usung Go Green, Pembatik di Kudus Pilih Pakai Pewarna AlamiDari hasil pelatihan itu, dia masih bisa menggaji karyawan Rp 100 ribu per kain batik berukuran panjang dua meter dengan lebar satu meter. Selain inovasi dengan cara itu, pihaknya tetap mencoba memproduksi batik dengan motif-motif terbaru.Motif-motif baru rutin dibuatnya setiap sepekan sekali. Tujuannya ketika pandemi Covid-19 berakhir, pihaknya memiliki produk baru."Kami juga sudah ada beberapa produk batik baru seperti batik motif Macan Tutul, motif Muria, dan motif Merak Sejodho," ungkapnya.Diketahui, saat ini Tere tengah menekuni batik menggunakan pewarna alami. Batik pewarna alami miliknya itu disinyalir mampu awet selama dua hingga lima tahun."Kebetulan toko saya ini kan dekat dengan area sawah. Saya mencoba mengangkat sesuatu yang alami. Mencoba untuk mengurangi limbah pewarna sintetis," ungkapnya.  Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler