Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Nasi aking yang dulu dikenal sebagai makanannya orang-orang miskin, kini naik kelas. Di Kabupaten Kudus, olahan nasi aking bahkan dijajakan dengan penyajian yang menarik selera dengan bungkus godong atau daun jati.

Peminatnya pun datang dari berbagai kalangan. Dari kelas menengah hingga kalangan atas.

Salah satu yang menjual nasi aking ini adalah Amida Ulfa Fauziah yang berjualan di depan kantor Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK). Lokasi tepatnya di Jalan Veteran, Desa Glantengan Kecamatan Kota, Kudus.

Nasi aking buatan Amida ini dibungkus daun jati, untuk membuat rasa nasi akingnya lebih sedap. Selain itu, juga dipadu dengan urapan, ikan peda dan sambal, yang membuat kuliner ini lebih nikmat.

"Ditambah dengan bungkusan daun jati supaya khas. Karena di Kudus itu kan biasanya identik dengan daun godong jati," katanya, Kamis (23/12/2021).

[caption id="attachment_260311" align="alignleft" width="1280"] Amida Ulfa Fauziah sedang menyiapkan nasi aking di warungnya depan PPRK Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma'arijil Ula)[/caption]

Meski nampak seperti nasi putih pada umumnya, rasa nasi aking itu terasa gurih. Selain itu juga rendah gula dan kalori. Alhasil, makanan ini banyak diburu bagi penderita diabetes.

"Saya berjualan nasi aking daun jati sudah dua tahun. Saya jualan nasi aking karena ibu dulu senang makan nasi aking," terangnya.

Menurut dia, penyajian menggunakan daun jati bertujuan untuk menambah cita rasa dan ciri khas. Soal keunikan lainnya berasal dari proses pemasakan.
Menurut dia, penyajian menggunakan daun jati bertujuan untuk menambah cita rasa dan ciri khas. Soal keunikan lainnya berasal dari proses pemasakan.Baca: Soto Kerbau Kudus, Kuliner Sarat Akulturasi BudayaDia melanjutkan, proses waktu memasak nasi aking itu memerlukan waktu yang lama. Nasi aking itu harus direndam terlebih dahulu."Proses pembersihan diulang sampai beberapa kali. Proses memasaknya menggunakan dandang. Karena tidak bisa menggunakan mesin penanak nasi," terangnya.Untuk menikmati nasi aking ini pembeli hanya perlu mengeluarkan uang Rp 3 ribu hingga Rp 7 ribu saja per porsinya, menyesuaikan tambahan lauknya. Dalam sehari Mida mengaku mampu menghabiskan 90 porsi nasi aking.Pembeli nasi aking daun jati itu tidak hanya berasal dari Kudus. Tetapi juga ada yang berada dari luar Kudus seperti Semarang."Ada yang beli dari luar Kudus. Dari Demak dan Semarang juga ada," ungkapnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler