Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Beragam mitos di Kabupaten Kudus masih dipercaya bagi sebagian masyarakatnya. Salah satunya, mitos larangan warga Desa Demaan dan Desa Singocandi untuk saling mencintai, apalagi sampai menikah.

Menurut sejarawan Kudus, Sancaka Dwi Supani, mitos itu masih lekat dengan kisah perselisihan Pangeran Puger dengan Sunan Kudus.

Pangeran Puger yang dimaksud Supani ini ialah, putra Panembahan Senapati yang lahir dari selir Nyai Adisara. Pangeran Puger ini bernama asli Raden Mas Kentol Kejuron. Ia hidup pada zaman sebelum Pakubuwana I.

Pangeran Puger ini pernah memberontak pada tahun 1602 - 1604 terhadap pemerintahan adiknya, yaitu Prabu Hanyokrowati atau kakek buyut Pangeran Puger Pakubuwana I.

Namun, saat itu Pangeran Puger kalah. Lalu, Pangeran Puger diasingkan oleh adiknya ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Desa Demaan.

“Pangeran Puger akhirnya ke Kudus. Itu sekitar abad 15,” katanya, Jumat (21/1/2022).

Baca juga: Mitos Warga Desa Barongan Kudus Dilarang Pakai Ayam Putih Mulus saat Buat Selamatan

Setelah berada di Kudus, terjadi perselisihan antara Pangeran Puger dengan Sunan Kudus. Supani menceritakan, sosok Sunan Kudus merupakan sosok yang perhatian dengan muridnya.

Suatu ketika, saat Sunan Kudus berkumpul dengan para wali di Demak untuk rapat, dia membungkus makanan untuk dibawa pulang. Makanan itu hendak diberikan pada santrinya daripada mubazir.

“Nah di situ, Pangeran Puger berkata ke Sunan Kudus yang justru mikir omah. Artinya kok harus membungkus makanan untuk santrinya. Dari perkataan Pangeran itulah Puger Sunan Kudus merasa dihina,” terangnya.Supani melanjutkan, semenjak perselisihan itu, Pangeran Puger tidak diterima di pesantren Kudus Kulon. Akhirnya, Pangeran Puger kembali ke Desa Demaan.Dari penjelasan Supani, dulunya Demaan merupakan pusat santri. Desa Demaan berada di timur Kali Gelis. Sementara Desa Singocandi berada di sebelah barat Kali Gelis.“Suatu hari Pangeran Puger menanam ketela hingga akhirnya menjalar sampai ke Kudus Kulon. Nah, rambatan ketela itu diputus sama santrinya Sunan Kudus," terangnya.Menurut Supani, hal itu berujung ke perselisihan warga Desa Demaan dengan Desa Singocandi. Sampai pada akhirnya warga di dua desa itu enggan untuk besanan.Namun, menurutnya hal itu hanya sebatas mitos. Sebab, saat ini di Kudus pernikahan antara warga Desa Demaan dengan warga Singocandi juga masih dilakukan.“Sebenarnya tidak masalah. Karena sejauh ini itu hanya mitos. Sebagai warga tetap harus menjalin kerukunan dan saling menghormati serta hidup berdampingan,” imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler