Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Bagi sebagian orang, prestasi menjadi tolak ukur untuk memantapkan diri dalam menekuni sebuah bidang keahlian. Salah satunya di bidang kesenian.

Seperti perempuan satu ini, Taqiyya Kinayu Aruming Jagad. Putri dari Solichin Kadar Muhammad dan Sakini itu sudah tampak bakat melukisnya sejak masa kecil.

Perempuan kelahiran Kudus, 25 April 2004 itu pun sudah terbiasa mencorat-coret kertas dan membuat sketsa abstrak sejak kecil.

Baca juga: Jamin Belor, Pelukis Asal Pati yang Sukses di Bali

“Dari kecil memang sudah hobi menggambar. Saya menggambarnya langsung menggunakan cat air. Sudah beberapa kali ikut lomba dari kecil. Untuk sekarang ingin menekuni bidang seni,” katanya, Rabu (9/2/2022).

Bakat yang mengalir dari darah ayahnya yang juga merupakan seniman itu pun mendapatkan dukungan dari orang tuanya.

Setiap kali ada perlombaan menggambar atau melukis, Taqiyya hampir selalu ikut andil. Ada puluhan karya yang telah dibuatnya.

Baca juga: Kreatif, Pelukis di Grobogan Ini Manfaatkan Styrofoam Bekas Jadi Bahan Warna

Puluhan karya garapannya pernah ditampilkan di berbagai ajang pameran. Bahkan, beberapa kali karya lukisannya itu telah menjuarai ajang seni, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dari karya-karya buatannya, ada dua karya yang paling berkesan baginya. Pertama adalah lukisan salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta.Lukisan itu pernah ditampilkan dalam pameran yang digelar komunitas perupa kudus, baru-baru ini.Satu lainnya yang menjadi sejarah baginya adalah lukisan tradisi buka luwur di Kudus. Karyanya itu berhasil menyabet Bronze Winner of National Aquarelle Painting Competition SIAPFEST, dan Exhibitors of Semarang International Aquarelle Painting Festival Exhibition.“Sudah membuat puluhan lukisan, dan yang paling berkesan adalah lukisan yang baru saya buat akhir-akhir ini. Itu lukisan bangunan di jogja dan tradisi buka luwur di Kudus,” imbuhnya.Raihan-raihan yang didapatkannya itu makin menguatkan cintanya pada seni melukis. Ia pun telah membulatkan tekadnya menjadi seniman muda.Perempuan yang masih duduk di bangku SMA ini mengaku lebih menyukai melukis bangunan dan juga melukis dengan tema kemanusiaan“Kalau melukis pemandangan saya kurang suka. Jiwa saya lebih senang menggambar suasana sosial, bangunan, dan lebih ke sisi kemanusiaan,” terangnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler