Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Penjual gerabah “kreweng” atau yang terbuat dari tanah liat di tradisi Bulusan di Desa Hadipoli, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tersenyum bahagia. Pasalnya, dagangannya laris manis dan bisa membawa pulang yang banyak.

Salah satunya dialami Zumrotun pedagang gerabah yang berjualan di tradisi Bulusan Kudus, Senin (9/5/2022).

Zumrotun yang merupakan warga Jepara itu mengaku tiap ada tradisi Bulusan selalu berjualan kreweng. Tahun ini pendapatannya meningkat karena bisa mencapai Rp 1 juta selama gelaran tradisi Bulusan.

"Mulai Lebaran kedua sudah jualan di sini. Rencananya saya jualan sampai Selasa (10/5/2022) besok," katanya, Senin (9/5/2922).

Rata-rata, dalam sehari dia mampu menjual 300 pcs gerabah kreweng. Sejauh ini, terhitung sejak dia jualan pada Lebaran hari kedua sudah 3.000 pcs yang terjual.

"Dibandingkan 2019 ya lebih ramai tahun ini. Dulu di 2019 selama jualan itu tidak sampai satu juta saya bawa uangnya," sambungnya.

Baca: Tradisi Bulusan di Kudus Digelar Terbatas, Hanya Satu Gunungan Dikirab

Diketahui, tradisi Bulusan terakhir digelar pada 2019. Kemudian vakum dua tahun pada 2020 dan 2021 karena pandemi Covid-19. Tradisi Bulusan kembali digelar tahun ini.

Dia menilai animo masyarakat lebih besar tahun ini lantaran sudah dua tahun tradisi Bulusan tidak digelar. Selain itu dia menilai tidak adanya momen Dandangan di Kudus.

"Kemungkinan warga memanfaatkan momen tradisi Bulusan ini untuk mengobati kangen karena Dandangan tidak digelar tahun ini," ujarnya.Sementara itu, Ketua Panitia Kirab Bulusan, Andi Lukman mengatakan selama gelaran tradisi Bulusan ada 250 orang pedagang yang ikut serta berjualan.Baca: 2.022 Kupat Lepet di Pesta Lomban Jepara Jadi Rebutan WargaMayoritas pedagang merupakan warga sekitar Dukuh Sumber, Desa Hadipolo. Selain itu ada juga pedagang yang berasal dari daerah luar Kudus, seperti Demak dan Pati."Bisa dibilang perekonomian kembali bergeliat karena dua tahun terakhir tidak ada tradisi Bulusan ini," ujar dia.Andi Lukman menambahkan, selama berjualan, pedagang hanya dikenakan biaya retribusi Rp 8 ribu sehari. Nominal itu untuk sewa tempat dan biaya kebersihan."Harapan kami semoga tahun depan tradisi Bulusan dapat diselenggarakan lagi," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler