Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus — Jembatan Merah di Dukuh Patihan, RT 01, RW 01, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekuko, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menjadi sisa-sisa kejayaan pabrik gula zaman Belanda di Kabupaten Kudus.

Jembatan ini disebut-sebut dibangun untuk memudahkan Pabrik Gula Tanjungmojo untuk mengangkut tebu dan hasil produksinya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Desa Tanjungrejo Hadi Paryono menjelaskan, Jembatan Merah itu diperkirakan berdiri dua tahun setelah berdirinya Pabrik Gula Tanjungmojo.

”Pabrik Gula Tanjungmojo berdirinya 1835. Dua tahun setelahnya berarti 1837 tahun di mana Jembatan Merah berdiri," katanya, Jumat (24/6/2022).

Dijelaskan, jika Jembatan Merah tersebut dahulu digunakan sebagai jalur angkut tebu. Yakni dari area kebun tebu menuju ke area Pabrik Gula Tanjungmojo.

”Itu peruntukannya semacam sarana transportasi untuk Pabrik Tanjungmojo. Tebu dari sawah diangkut ke Pabrik Tanjungmojo lewat Jembatan Merah itu. Dahulunya di situ ada relnya juga," ujarnya.

Baca: Ini Biang Bangkrutnya Dua Pabrik Gula Zaman Belanda di Kudus

Jembatan itu masih berdiri dan difungsikan hingga kini. Namun karena lebarnya yang sempit, kendaraan yang melintas harus bergantian. Terutama ketika ada kendaraan roda empat dan roda dua berpapasan.

Kepala Desa Tanjungrejo Christian Rahardiyanto menyebut jika jembatan tersebut memiliki panjang 50 meter dengan lebar 2,5 meter.

Menurut Christian, Jembatan Merah itu merupakan jembatan kabupaten. Jembatan tersebut merupakan peninggalan Belanda. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Klaling dengan Desa Tanjungrejo.”Jembatan Merah itu sudah dari dahulu sempit. Kalau mau lewat, mobil dengan motor harus bergantian," terangnya.Baca: Pabrik Gula Tanjungmojo Kudus Pernah Dibom JepangDia mengaku sudah pernah mengusulkan agar jembatan itu direnovasi pada 2011 silam saat era Bupati Kudus Musthofa.”Tetapi saat itu belum ada tindak lanjut. Sampai sekarang ya masih sempit seperti itu," sambungnya.Untuk saat ini pihaknya sebatas mengimbau kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati ketika melintas.”Imbauan kami kepada pengguna jalan yang melintas Jembatan Merah untuk berhati-hati karena jembatan tersebut sempit. Harus bersabar dan bergantian ketika melintas," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler