Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Masyarakat Kabupaten Kudus, Jawa Tengah sebagian mengira jika pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa dilakukan menggunakan fogging. Namun, sebenarnya bukan seperti itu.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Nuryanto mengatakan, pencegahan DBD tidak sepenuhnya dilakukan dengan fogging. Sebab, fogging merupakan pilihan terakhir. Karena fogging dianggap kurang efektif untuk memberantas nyamuk.

”Fogging hanya membunuh nyamuk Aedes Aegypti dewasa saja. Tetapi tidak membunuh jentik-jentiknya. Jentik-jentiknya ini nanti masih bisa berkembang menjadi nyamuk,” katanya, Kamis (7/7/2022).

Baca juga: IDI Kudus: Ganti Fogging dengan Ini, Nyamuk Pasti Minggat

Menurut Nuryanto, ada cara yang lebih efektif untuk mencegah DBD. Yakni dengan cara menjaga kesehatan, menguras bak mandi, menutup tampungan air, dan mengubur sampah.

Pencegahan tersebut dirasa lebih penting. Karena jika menggunakan fogging ada efek samping yang ditimbulkan.

”Fogging mengandung bahan kimia. Tidak hanya membunuh nyamuk, tetapi juga memiliki efek buruk ke hewan lain di sekitar juga,” sambungnya.
”Fogging mengandung bahan kimia. Tidak hanya membunuh nyamuk, tetapi juga memiliki efek buruk ke hewan lain di sekitar juga,” sambungnya.Dia menjelaskan, pelaksanaan fogging harus memenuhi beberapa unsur. Yakni ada satu kasus kematian karena DBD di wilayah tersebut. Selain itu minimal ada satu kasus DBD dan setelah dilaksanakan PE atau penyelidikan epidemiologi, terdapat tambahan kasus dengan diagnosis DBD.Selain itu, aturan untuk melaksanakan fogging, di wilayah tersebut ada temuan tiga kasus demam tanpa sebab yang jelas. Lalu, ada temuan jentik-jentik nyamuk lebih dari lima persen.”Setelah ada pelaksanaan fogging, rumah sekitar ditemukannya kasus DBD dengan radius 200 meter juga ikut difogging. Karena kalau tidak difogging, ada kemungkinan muncul kasus DBD juga," imbuhnya.  Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Dani Agus

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler