MURIANEWS, Kudus – Loper koran di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengeluh. Sebab, penjualan korannya tidak lagi ramai, dan hanya mengandalkan jual eceran.
Arum Mulyatno, warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten
Kudus, Jawa Tengah, hingga kini masih mengadu nasib menjadi loper koran.
Pada Selasa (19/7/2022) Mulyatno berjualan koran di Jalan Dr Ramelan, Kudus, Jawa Tengah. Dia terlihat sibuk menawarkan korannya. Tangannya memegang koran untuk ditawarkan ke pengandara roda empat yang melintas.
Mulyatno sudah berjualan koran sejak tahun 1999. Saat itu dia berjualan di Perempatan Bejagan, Desa Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Kemudian, di tahun 2001 hingga sekarang dia menjajakan korannya di Jalan Dr Ramelan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dia berjualan setiap hari mulai pukul 05.30 WIB sampai menjelang pukul 12.00 WIB.
”Kondisi saat ini sepi. Omzetnya menurun drastis sampai 100 persen jika dibandingkan dengan tahun 90-an," katanya, Selasa (19/7/2022).
Baca: Tak Mau Jadi Beban Anak, Kakek Usia 77 Tahun di Kudus Semangat Jadi Penjaja Koran AsonganDia melanjutkan, beberapa alasan turunnya penjualan koran. Menurutnya, hal itu sejak adanya Jalan Lingkar dari Terminal Induk Jati Kudus menuju ke arah Pati-Surabaya.
”Dampaknya tidak banyak mobil yang lewat ke kota lagi. Karena sudah ada Jalan Lingkar. Sehingga tidak banyak yang beli koran," sambungnya.
Situasinya semakin sulit seiring berkembangnya teknologi ponsel pintar. Sebab, pembaca cukup mencari informasi lewat ponsel.
Situasinya semakin sulit seiring berkembangnya teknologi ponsel pintar. Sebab, pembaca cukup mencari informasi lewat ponsel.”Kalau punya HP (handphone, red) bisa langsung cari informasi. Lebih cepat, apalagi kalau berita kejadian. Kalau berita kejadian di koran kan terbitnya esok harinya sudah terlambat," ujarnya.Dia membeberkan penjualan korannya saat masih laris. Yakni saat sebelum adanya Jalan Lingkar Pati-Surabaya dan sebelum marak ponsel pintar.
Baca: Sepeda Listrik Dilarang Beroperasi di Jalan Raya KudusSaat itu setidaknya dia mampu menjual 55 eksemplar koran per hari. Jumlah tersebut terdiri dari beberapa media koran.”Dahulu bisa jual 55 eksemplar. Harga korannya saat itu ada yang Rp 1 ribu, ada juga Rp 1500. Jualannya juga sebentar sudah habis. Berangkat pukul 05.30 WIB, pulang pukul 10.00 WIB," ujarnya.Namun, kali ini dia hanya mampu menjual 10 sampai 15 eksemplar koran. Ditambah lagi, pelanggannya di tiap-tiap rumah juga tidak lagi berlangganan. Sehingga saat ini dia hanya bergantung jualan koran di Jalan Dr. Ramelan."Seiring harga koran yang naik, pelanggannya juga sudah tidak lagi berlangganan," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha
[caption id="attachment_302914" align="alignleft" width="1280"]

Arum Mulyatno menjajakan korannya di Jalan Dr Ramelan Kudus. (Murianews/Vega Ma'arijil Ula)[/caption]
MURIANEWS, Kudus – Loper koran di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengeluh. Sebab, penjualan korannya tidak lagi ramai, dan hanya mengandalkan jual eceran.
Arum Mulyatno, warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten
Kudus, Jawa Tengah, hingga kini masih mengadu nasib menjadi loper koran.
Pada Selasa (19/7/2022) Mulyatno berjualan koran di Jalan Dr Ramelan, Kudus, Jawa Tengah. Dia terlihat sibuk menawarkan korannya. Tangannya memegang koran untuk ditawarkan ke pengandara roda empat yang melintas.
Mulyatno sudah berjualan koran sejak tahun 1999. Saat itu dia berjualan di Perempatan Bejagan, Desa Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Kemudian, di tahun 2001 hingga sekarang dia menjajakan korannya di Jalan Dr Ramelan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dia berjualan setiap hari mulai pukul 05.30 WIB sampai menjelang pukul 12.00 WIB.
”Kondisi saat ini sepi. Omzetnya menurun drastis sampai 100 persen jika dibandingkan dengan tahun 90-an," katanya, Selasa (19/7/2022).
Baca: Tak Mau Jadi Beban Anak, Kakek Usia 77 Tahun di Kudus Semangat Jadi Penjaja Koran Asongan
Dia melanjutkan, beberapa alasan turunnya penjualan koran. Menurutnya, hal itu sejak adanya Jalan Lingkar dari Terminal Induk Jati Kudus menuju ke arah Pati-Surabaya.
”Dampaknya tidak banyak mobil yang lewat ke kota lagi. Karena sudah ada Jalan Lingkar. Sehingga tidak banyak yang beli koran," sambungnya.
Situasinya semakin sulit seiring berkembangnya teknologi ponsel pintar. Sebab, pembaca cukup mencari informasi lewat ponsel.
”Kalau punya HP (handphone, red) bisa langsung cari informasi. Lebih cepat, apalagi kalau berita kejadian. Kalau berita kejadian di koran kan terbitnya esok harinya sudah terlambat," ujarnya.
Dia membeberkan penjualan korannya saat masih laris. Yakni saat sebelum adanya Jalan Lingkar Pati-Surabaya dan sebelum marak ponsel pintar.
Baca: Sepeda Listrik Dilarang Beroperasi di Jalan Raya Kudus
Saat itu setidaknya dia mampu menjual 55 eksemplar koran per hari. Jumlah tersebut terdiri dari beberapa media koran.
”Dahulu bisa jual 55 eksemplar. Harga korannya saat itu ada yang Rp 1 ribu, ada juga Rp 1500. Jualannya juga sebentar sudah habis. Berangkat pukul 05.30 WIB, pulang pukul 10.00 WIB," ujarnya.
Namun, kali ini dia hanya mampu menjual 10 sampai 15 eksemplar koran. Ditambah lagi, pelanggannya di tiap-tiap rumah juga tidak lagi berlangganan. Sehingga saat ini dia hanya bergantung jualan koran di Jalan Dr. Ramelan.
"Seiring harga koran yang naik, pelanggannya juga sudah tidak lagi berlangganan," imbuhnya.
Reporter: Vega Ma'arijil Ula
Editor: Ali Muntoha