Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus mempunyai segudang tradisi di bulan Sura atau Suronan. Selain buka luwur Makam Sunan Kudus dan Sunan Muria, ada banyak lagi tradisi di desa-desa di Kota Kretek ini.

1. Desa Panjang

Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memiliki tradisi buka luwur Makam Raden Ayu Kuning dan Mbah Sowijoyo. Keduanya diyakini sebagai leluhur desa.

Tradisi tersebut digelar setiap 17 Muharram. Kegiatan tradisi buka luwur di makam Raden Ayu Kuning dan Mbah Sowijoyo itu digelar dengan kegiatan pengajian di area punden.

”Harapan kami tradisi ini dapat dilestarikan. Hal ini sebagai bentuk nguri-uri budaya berdirinya sebuah desa," kata Kepala Desa Panjang, Eko Oktavian, Selasa (2/8/2022).

2. Desa Bae

Tradisi buka luwur juga digelar di Desa Bae, Kecamatan Bae saat Sura. Luwur yang dibuka berada di Makam Syekh Abdul Ghofur yang terletak di Dukuh Pondok, RW 03. Di tahun ini, tradisi tersebut digelar pada Jumat (12/8/2022).

Baca: Kirab Peringatan Buka Luwur Sunan Kudus, Pertama Kalinya Digelar

Kepala Desa Bae, Agung Budiyanto menyebut,  Syekh Abdul Ghofur merupakan cikal bakal Desa Bae. Oleh sebab itu, hingga saat ini tradisi buka luwur masih terus diperingati saat suronan.

3. Desa Tanjungkarang

[caption id="attachment_302019" align="alignleft" width="1280"] Tradisi Kirab Lentog Tanjung Kudus. (Murianews/Istimewa)[/caption]

Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memiliki tradisi buka luwur.

Kepala Desa Tanjungkarang Sumarno mengatakan, di desanya terdapat lima punden yang setiap bulan Muharram atau Sura dilaksanakan kegiatan buka luwur.

Punden tersebut yakni Punden Mbah Nolosoro, Punden Mbah Jogodito, Punden Mbah Demang, Punden Mbah Kanugaten, dan Punden Mbah Surodirono.

”Untuk tanggal pelaksanaannya berbeda-beda. Tetapi biasanya pelaksanaannya setelah pelaksanaan pasang luwur yang baru di Makam Sunan Kudus," ujarnya.

Selain lima punden tersebut, di Desa Tanjungkarang juga terdapat satu petilasan Mbah Sukesi. Tetapi di petilasan ini tidak ada kegiatan buka luwur.

”Di petilasan hanya ada kegiatan kirim doa dan kirab. Kirabnya berupa kirab lentog," sambungnya.

Baca: Mengenal Pager Mangkok Warisan Sunan Muria

Menurut Sumarno kegiatan kirab lentog dilaksanakan sebagai ucapan rasa syukur. Pelaksanaannya dilakukan di kawasan Lentog Tanjung.

”Kami bagikan seribu piring lentog gratis. Hal ini sebagai bentuk nguri-uri budaya. Selain itu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT," imbuhnya.

4. Desa Dersalam

Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memiliki tradisi buka luwur. Pelaksanaannya di Makam Mbah Buyut Kronowongso.

”Pelaksanaannya setiap 15 Muharram. Tahun ini jatuh di 12 Agustus. Di tahun ini mulai tanggal 6 Agustus sampai 11 Agustus akan ada expo UMKM juga sebagai rangkaian acara," kata Kepala Desa Dersalam, Muhammad Sulaiman, Selasa (2/8/2022).
”Pelaksanaannya setiap 15 Muharram. Tahun ini jatuh di 12 Agustus. Di tahun ini mulai tanggal 6 Agustus sampai 11 Agustus akan ada expo UMKM juga sebagai rangkaian acara," kata Kepala Desa Dersalam, Muhammad Sulaiman, Selasa (2/8/2022).Kemudian, pada Kamis (11/8/2022) akan digelar kirab. Kirab terdiri dari hasil bumi dan ternak, salah satunya kambing. ”Kirabnya dimulai dari balai desa menuju ke Makam Mbah Kronowongso," sambungnya.Lebih lanjut, Sulaiman mengatakan, sosok Mbah Kronowongso merupakan sesepuh cikal bakal Desa Dersalam. Sehingga harus dihormati dengan tradisi suronan.5. Desa RahtawuDesa yang berada di Gunung Muri aini dikenal mempunyai banyak petilasan. Saat Sura, banyak warga dari berbagai daerah yang datang untuk berdoa di petilasan-petilasan itu.Pihak desa sendiri menyelenggarakan tradisi suronan di petilasan Eyang Sakri dan Eyang Abiyoso pada 10 Muharram.”Pelaksanaan buka luwur di petilasan Eyang Sakri dan Eyang Abiyoso dilaksanakan bersamaan pukul 22.00 WIB," kata Kepala Desa Rahtawu, Rasmadi Didik Aryadi.Didik menambahkan, keberadaan Eyang Sakri dan Eyang Abiyoso merupakan cikal bakal adanya Desa Rahtawu. Oleh sebab itu, pihaknya masih melestarikan tradisi buka luwur.”Kami nguri-uri budaya sebagai bentuk tradisi. Selain itu untuk menarik pengunjung berwisata budaya. Tetapi saran saya sebagai muslim tetap mempertahankan akidah seorang muslim. Ketika berziarah ya tidak meminta ke petilasan, tetapi berdoanya tetap kepada Allah SWT," imbuhnya.6. Desa LanggardalemTradisi Suronan di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, digelar dengan buka luwur di makam Mbah Panggung setiap 27 Muharram.Kepala Desa Langgardalem, Muhammad Khoirul Amin mengatakan, makam mbah Panggung berada di RT 03, RW 03, Desa Langgardalem. Khoirul Amin menjelaskan tentang sosok Mbah Panggung.”Mbah Panggung konon merupakan juru tulis atau sekretaris Sunan Kudus. Kegiatan buka luwurnya ada acara pengajian bagi warga sekitar. Ada juga pembagian sego jangkrik yang dibagikan oleh panitia buka luwur ke warga Desa Langgardalem," terangnya.7. Desa Kaliputu[caption id="attachment_305546" align="alignleft" width="1280"] Kirab Jenang Tebokan Desa Kaliputu Kudus. (Murianews/Anggara Jiwandhana)[/caption]Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus juga memiliki tradisi saat Muharram. Yakni berupa tradisi Kirab Jenang Tebokan.Tradisi Kirab Jenang Tebokan ini dilaksanakan setiap 1 Muharram. Kata Tebokan diambil dari kata tebok yang berarti nampan sebagai tempat untuk meletakkan jenang.Di tahun ini, acara Kirab Jenang Tebokan telah dilaksanakan oleh warga Desa Kaliputu. Tepatnya pada 1 Muharram atau Sabtu (30/7/2022) lalu.Selama berlangsungnya acara, kegiatan kirab Jenang Tebokan tersebut digelar sederhana. Ratusan peserta mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa membawa tebokan berisi jenang dan penganan lain.Makanan-makanan tersebut dibentuk menjadi gunungan dan diarak dari Jalan Sosrokartono menuju Balai Desa KaliputuKepala Desa Kaliputu Kudus Widiyo Pramono menyampaikan, tradisi tebokan merupakan simbol untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas keberhasilan usaha jenang di Kaliputu. Momennya, bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler