Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Gribig adalah salah satu desa yang ada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Desa Gribig berada di Kecamatan Gebog yang berada di lereng gunung Muria.

Desa Gribig identik dengan Sunan Kedu. Sosok Sunan Kedu ini disebut-sebut sebagai cikal bakal Desa Gribig.

Makam Sunan Kedu berada di Dukuh Krajan RT 04, RW 02, Desa Gribig. Lantas, siapakan Sunan Kedu ini?

Baca juga: Kirab Buka Luwur Sunan Kedu di Kudus Digelar, Begini Suasananya

Plt Sekdes Gribig Muhammad Kamal menceritakan, tentang sosok Sunan Kedu. Sepengetahuan dia yang didapat dari cerita turun temurun, Sunan Kedu datang dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ke Kabupaten Kudus. Tujuannya untuk mengetes ilmu dari Sunan Kudus, salah satu dari Walisongo.

”Sunan Kedu saat itu naik tampah dan berputar-putar di atas Sunan Kudus. Kemudian Sunan Kudus menunjuk ke arah Sunan Kedu, kemudian Sunan Kedu terjatuh,” katanya, Kamis (11/8/2022).

Tidak banyak yang diketahui oleh Kamal. Dia hanya mengetahui sedikit tentang sejarah Sunan Kedu. Namun, dia menjelaskan beberapa peninggalan Sunan Kedu yang masih ada hingga sekarang.

Lokasi masjid At-Taqwa berada di Dukuh Krajan RT 04, RW 02, Desa Gribig. Sedangkan lokasi Belik Pundung berada di Dukuh Krajan RT 04, RW 03, Desa Gribig.

”Peninggalan berupa belik Pundung dan Masjid AT-Taqwa Sunan Kedu juga masih ada. Di makamnya setiap tanggal 13 Muharam ada tradisi Buka Luwur," sambungnya.
”Peninggalan berupa belik Pundung dan Masjid AT-Taqwa Sunan Kedu juga masih ada. Di makamnya setiap tanggal 13 Muharam ada tradisi Buka Luwur," sambungnya.Terpisah, Sejarawan Kudus Agus Susanto mengatakan, memang ada dua versi tentang sosok Sunan Kedu. Pertama dari sisi folklore, dan kedua dari sisi sejarah.Dari sisi folklore atau dongeng, menurut Agus sama seperti apa yang diceritakan oleh Kamal. Sedangkan dari sisi sejarah pihaknya menjelaskan beberapa hal.”Tidak banyak memang sejarah yang menjelaskan soal Sunan Kedu. Tetapi Sunan Kedu atau Syeikh Abdul Bashir memiliki nama Ma Ku Kwan. Melihat marga Ma ini beliau merupakan orang Tionghoa dari suku Hui yang beragama Islam,” katanya.Dari penjelasan Agus, sosok Sunan Kedu merupakan salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Meski demikian data sejarah tentang Sunan Kedu tergolong minim.”Ada juga sejarah yang mengatakan kalau Sunan Kudus menyuruh Sunan Kedu untuk menanam tembakau di daerah Temanggung,” imbuhnya.  Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Dani Agus

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler