Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Kasus angka kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian bayi (AKB) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah tidak bisa dipandang remeh. Sebab, jumlahnya tergolong tinggi.

Untuk diketahui, AKI yakni jumlah kematian ibu dalam proses kehamilan, persalinan, dan paska persalinan per 100 ribu kelahiran hidup pada masa tertentu. Sementara itu, AKB yakni jumlah meninggalnya bayi yang berusia di bawah satu tahun per 1.000 kelahiran yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto mengatakan, AKB di Kota Kretek mulai Januari 2022 hingga Agustus 2022 terdapat 58 kasus.

Dari jumlah tersebut ada yang meninggal saat proses persalinan. Lainnya karena infeksi saluran pernapasan. Sedangkan penyebab kematiannya beragam.

”Ada yang disebabkan karena pneumonia, henti napas, kekurangan cairan tubuh, dan juga diare," katanya, Jumat (19/8/2022).

Kemudian, untuk kasus AKI terdapat sepuluh kasus. Mulai dari meninggal saat proses kehamilan dan terserang Covid-19.

Baca: Asuh 2 Adik usai Ibu Meninggal, Bocah di Sragen Dinobatkan Jadi Hero Anak Unicef

Ada juga setelah melahirkan, terjadi pendarahan. Ada juga yang disebabkan karena pendarahan saat melahirkan, hipertensi dan penyakit jantung.Nuryanto menambahkan, pihaknya terus berupaya untuk meminimalisir AKI dan AKB. Di antaranya dengan cara melaksanakan upaya preventif.”Kami sosialisasi ke bidan-bidan desa, puskesmas, dan rumah sakit untuk pencegahan," sambungnya.Menurutnya, upaya manajemen penanganan penyakit kronis yang tepat juga berperan penting mengurangi kasus AKI dan AKB. Sehingga kasusnya tidak terus naik.”Penanganan terhadap penyakit kronis juga penting dan harus ditekan untuk menurunkan kasus kematian ibu dan bayinya," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler