Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Produk ecoprint kini tengah naik daun. Di Kabupaten Kudus, peminat produk-produk ini semakin tinggi, pelatihan pembuatan ecoprint juga banyak digelar.

Ecoprinting adalah sebuah teknik cetak dengan pewarnaan kain alami yang cukup sederhana namun dapat menghasilkan motif yang unik dan otentik. Produk ecoprint juga tampak lebih unik.

Pembuatan corak pada kain juga sangat berbeda dengan membuat batik. Jika batik biasa menggunakan canting sebagai alat penggambar motifnya, ecoprint punya dua cara untuk membuat motifnya, yakni steam dan pounding.

Dasa Gentawati, trainer ecoprint sekaligus owner Ecoprint Genta Mas mengatakan, keunggulan ecoprint di antaranya lebih ramah lingkungan. Motifnya unik karena menggunakan dedaunan.

Hasil ecoprint yang telah direbus selama dua jam menghasilkan berbagai warna tua dan muda. Selain itu warnanya tidak cepat pudar.

”Saya membuktikan sendiri warnanya bisa awet hingga tiga tahun. Saya cuci menggunakan mesin cuci juga tidak pudar. Yang penting kalau membuat ecoprint menggunakan kain katun. Kalau menggunakan kain polyester hasilnya tidak bagus," katanya, Jumat (9/9/2022).

Baca: Demo Ecoprint Digelar di Pekan UMKM Kudus, Pengunjung Bisa Ikut Mencoba

Daun yang digunakan untuk ecoprint juga mudah didapat. Yakni menggunakan daun jarak kepyar, daun lanang, daun jarak wulung, daun kenikir, dan daun petet.

Kemudian, bisa juga menggunakan daun pepaya, daun kersen, daun kelengkeng, daun jambu biji, dan daun jati.

Dasa mengatakan, untuk kain-kain pendek, biasanya akan menggunakan metode pounding.

Yakni dengan meletakkan dedaunan di atas kain, kemudian mengalasinya dengan plastik, untuk kemudian diketuk-ketuk menggunakan palu hingga warna dan corak daun membekas di kain.Baca: Melihat Pembuatan Batik Ecoprint di Kudus yang Mempesona dan Ramah LingkunganSementara untuk kain dengan ukuran besar, akan dibuat dengan metode steam.”Pertama memang ditata daunnya, karena itulah ada yang menyebut seni menata daun. Jika sudah kemudian digulung dan diikat kencang. baru dikukus selama dua jam lebih,” rincinya.Kain yang telah jadi, kemudian akan diangin-anginkan selama kurang lebih sepekan. Hingga akhirnya, kain siap dipergunakan untuk aneka busana.”Hasil yang diberikan dari proses ecoprint akan berbeda antara satu kain dengan kain lainnya. Begitu juga dengan corak-coraknya walau menggunakan daun yang sama, inilah yang membuatnya istimewa,” ujarnya.Di Kabupaten Kudus sudah ada puluhan perajin ecoprint. Mereka menjualnya baik online maupun offline dengan harga mulai Rp 250 ribu untuk ukuran 2x115 cm.Ia pun yakin produk ecoprint memiliki potensi yang baik ke depannya. ”Kalau batik kan sudah banyak ya. Kalau ecoprint ini sudah mulai merangkak naik peminatnya. Orang-orang mulai memakai dan juga mulai penasaran," terangnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler