Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Menara Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memiliki cara tersendiri untuk mempromosikan desa. Salah satunya lewat lukisan.

Seksi Promosi Pokdarwis Menara Desa Kauman, Muhammad Noor Syamsul Huda mengatakan, pihaknya ingin mempromosikan Desa Kauman agar semakin dikenal hingga mancanegara.

”Kami ingin memperkenalkan wisata Menara Kudus. Supaya peziarah terus berdatangan ke kawasan Menara Kudus," katanya, Sabtu (17/9/2022).

Saat ini sudah ada 30 lukisan bertemakan Menara Kudus. Lukisan tersebut merupakan gambaran dari kawasan Menara Kudus.

Aliran lukisan tersebut yakni ekspresionis. Yakni aliran yang mengandalkan ketajaman pencahayaan gelap dan terang.

Baca: Harus Tahu, Ini Cerita Awal Mula Percetakan Menara Kudus Produksi Alquran Ayat Pojok 5 Jilid

Lukisan tersebut menggunakan media kanvas dan dilukis menggunakan cat air. Ukuran lukisan tersebut beragam. Mulai dari ukuran 200 cm x 100 cm, 100 cm x 130 cm, 25 cm x 15 cm, dan lainnya.

Dia menjelaskan, lukisan yang sudah ada saat ini dibuat oleh tiga orang. Yakni H Sukyron, yang merupakan kaligrafer klasik, Ahmad Ahid selaku pelukis, dan juga dirinya sendiri yang juga merupakan kaligrafer.
Dia menjelaskan, lukisan yang sudah ada saat ini dibuat oleh tiga orang. Yakni H Sukyron, yang merupakan kaligrafer klasik, Ahmad Ahid selaku pelukis, dan juga dirinya sendiri yang juga merupakan kaligrafer.Durasi proses pembuatan lukisan itu beragam. Mulai dari yang paling cepat selesai dalam 10 hari hingga memakan waktu sebulan. Hal itu bergantung kerumitan.”Nilai jualnya mulai dari Rp 500 ribu sampai puluhan juta," sambungnya.Baca: Revitalisasi Alun-Alun Lama Kudus, Ojek Menara Dijanjikan Kantong ParkirSejauh ini penjualan lukisannya ke beberapa daerah. Seperti Kudus, eks Karesidenan Pati, negara-negara ASEAN, dan Rusia.”Harapannya Desa Kauman dan Kudus bisa semakin dikenal hingga nasional dan mancanegara," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler