Murianews menghimpun data dari buku sejarah berjudul Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus. Buku cetakan kedua edisi revisi tahun 2008 itu disusun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus.
Di buku tersebut dijelaskan tentang Kelenteng Hok Ling Bio. Tepatnya di halaman 21.
Kelenteng Hok Ling Bio yang terletak di Desa Langgardalem itu memiliki ukuran panjang 16,50 meter, lebar 16 meter, tinggi 8 meter, dengan luas tanah 611 m persegi dan luas bangunan 300,80 m persegi.
”Bahan bangunan dari tembok batu, bata merah, semen, kayu jati dan genting. Bangunan kelenteng merupakan milik Yayasan Nyoo Thiam Huk. Sejak dulu tempat ibadah penganut Kong Hu Cu kondisinya terawat baik," tulis kalimat buku tersebut.
Baca: Berkunjung ke Singkawang yang Kerap Dijuluki Kota Seribu KelentengDi buku itu juga dijelaskan bangunan kelenteng menghadap ke barat dengan motif hias fauna gambar naga dan singa. Bangunan kelenteng telah ada sekitar abad XV.
”Lebih tua dari Menara Kudus. Kelenteng Hok Ling Bio sudah mengalami rehab ddua kali. Yakni pada tahun 1889 dan tahun 1976,".
Di buku tersebut juga dijelaskan nilai purbakala yang masih asli. Terdiri dari kusen dan pintu masuk ke tempat inti ibadah, dua jendela di bagian kanan dan kiri, pintu motif ukir China sebanyak empat buah, dan cagak saka dari kayu jati.
Baca: Lampion di Kelenteng Kudus Ini Dipasang Setahun Penuh, Ini TujuannyaDi depan bangunan kelenteng terdapat pohon Dewa Daru yang sering diambil kayunya untuk kepentingan khusus. Pada pintu masuk pertama terdapat dua buah pasang patung singa dan dua buah patung Kin.Arti penting bangunan kelenteng menambah data arkeologi tentang proses akulturasi budaya lokal dengan budaya China. Yakni menjadi bukti adanya kerukunan umat beragama di Kudus.”Di zaman Sunan Kudus warga diminta menghargai umat lain. Sehingga toleransi beragama berjalan baik hingga saat ini," imbuh tulisan di buku tersebut Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha
Murianews, Kudus – Kelenteng Hok Ling Bio terletak di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten
Kudus, Jawa Tengah. Kelenteng Hok Ling Bio menjadi bukti toleransi antarumat Tionghoa dengan umat muslim di sekitar kawasan Menara Kudus.
Murianews menghimpun data dari buku sejarah berjudul Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus. Buku cetakan kedua edisi revisi tahun 2008 itu disusun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus.
Di buku tersebut dijelaskan tentang Kelenteng Hok Ling Bio. Tepatnya di halaman 21.
Kelenteng Hok Ling Bio yang terletak di Desa Langgardalem itu memiliki ukuran panjang 16,50 meter, lebar 16 meter, tinggi 8 meter, dengan luas tanah 611 m persegi dan luas bangunan 300,80 m persegi.
”Bahan bangunan dari tembok batu, bata merah, semen, kayu jati dan genting. Bangunan kelenteng merupakan milik Yayasan Nyoo Thiam Huk. Sejak dulu tempat ibadah penganut Kong Hu Cu kondisinya terawat baik," tulis kalimat buku tersebut.
Baca: Berkunjung ke Singkawang yang Kerap Dijuluki Kota Seribu Kelenteng
Di buku itu juga dijelaskan bangunan kelenteng menghadap ke barat dengan motif hias fauna gambar naga dan singa. Bangunan kelenteng telah ada sekitar abad XV.
”Lebih tua dari Menara Kudus. Kelenteng Hok Ling Bio sudah mengalami rehab ddua kali. Yakni pada tahun 1889 dan tahun 1976,".
Di buku tersebut juga dijelaskan nilai purbakala yang masih asli. Terdiri dari kusen dan pintu masuk ke tempat inti ibadah, dua jendela di bagian kanan dan kiri, pintu motif ukir China sebanyak empat buah, dan cagak saka dari kayu jati.
Baca: Lampion di Kelenteng Kudus Ini Dipasang Setahun Penuh, Ini Tujuannya
Di depan bangunan kelenteng terdapat pohon Dewa Daru yang sering diambil kayunya untuk kepentingan khusus. Pada pintu masuk pertama terdapat dua buah pasang patung singa dan dua buah patung Kin.
Arti penting bangunan kelenteng menambah data arkeologi tentang proses akulturasi budaya lokal dengan budaya China. Yakni menjadi bukti adanya kerukunan umat beragama di Kudus.
”Di zaman Sunan Kudus warga diminta menghargai umat lain. Sehingga toleransi beragama berjalan baik hingga saat ini," imbuh tulisan di buku tersebut
Reporter: Vega Ma'arijil Ula
Editor: Ali Muntoha