Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Murianews menghimpun data dari buku sejarah berjudul Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus. Buku cetakan kedua edisi revisi tahun 2008 itu disusun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus.

Di buku tersebut dijelaskan tentang Kelenteng Hok Ling Bio. Tepatnya di halaman 21.

Kelenteng Hok Ling Bio yang terletak di Desa Langgardalem itu memiliki ukuran panjang 16,50 meter, lebar 16 meter, tinggi 8 meter, dengan luas tanah 611 m persegi dan luas bangunan 300,80 m persegi.

”Bahan bangunan dari tembok batu, bata merah, semen, kayu jati dan genting. Bangunan kelenteng merupakan milik Yayasan Nyoo Thiam Huk. Sejak dulu tempat ibadah penganut Kong Hu Cu kondisinya terawat baik," tulis kalimat buku tersebut.

Baca: Berkunjung ke Singkawang yang Kerap Dijuluki Kota Seribu Kelenteng

Di buku itu juga dijelaskan bangunan kelenteng menghadap ke barat dengan motif hias fauna gambar naga dan singa. Bangunan kelenteng telah ada sekitar abad XV.

”Lebih tua dari Menara Kudus. Kelenteng Hok Ling Bio sudah mengalami rehab ddua kali. Yakni pada tahun 1889 dan tahun 1976,".

Di buku tersebut juga dijelaskan nilai purbakala yang masih asli. Terdiri dari kusen dan pintu masuk ke tempat inti ibadah, dua jendela di bagian kanan dan kiri, pintu motif ukir China sebanyak empat buah, dan cagak saka dari kayu jati.Baca: Lampion di Kelenteng Kudus Ini Dipasang Setahun Penuh, Ini TujuannyaDi depan bangunan kelenteng terdapat pohon Dewa Daru yang sering diambil kayunya untuk kepentingan khusus. Pada pintu masuk pertama terdapat dua buah pasang patung singa dan dua buah patung Kin.Arti penting bangunan kelenteng menambah data arkeologi tentang proses akulturasi budaya lokal dengan budaya China. Yakni menjadi bukti adanya kerukunan umat beragama di Kudus.”Di zaman Sunan Kudus warga diminta menghargai umat lain. Sehingga toleransi beragama berjalan baik hingga saat ini," imbuh tulisan di buku tersebut Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler