Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Murianews berkesempatan mewawancarai Mustain Suspata di kediamannya yang berada di RT 02, RW 02, Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Mustain-sapaan akrabnya itu dahulu sempat mengenyam studi di Institut Teknologi Katolik, Semarang, Jawa Tengah (sekarang Universitas Katolik Soegijapranata atau Unika). Dia mengambil jurusan arsitektur.

”Tetapi saat semester tiga saya pilih keluar karena ada kendala ekonomi. Selain itu saya lihat senior saya kok lulusnya lama, akhirnya saya keluar. Kemudian cari kerjaan di konsultan," katanya, Sabtu (19/11/2022).

Meski tidak lulus kuliah, tak berarti Mustain tidak punya karya. Berbekal pinjam bendera sebuah konsultan dirinya kerap merancang bangunan di berbagai wilayah di Indonesia. Pekerjaan tersebut dijalaninya sejak sekitar tahun 1986.

”Saya sering pinjam bendera sebuah konsultan. Kemudian nanti bagi hasil. Saya pernah merancang perumahan di Jakarta, musala di Padang, pasar di daerah Cikarang, dan lainnya," sambungnya.

Baca: Miniatur Rumah Adat Buatan Pemuda Kudus Ini Istimewa, Segini Harganya

Rancangan buatannya juga diterapkan di Kudus, Jawa Tengah. Dirinya mengaku merancang gedung Stikes Cendekia Utama. Selain itu juga merancang tempat untuk bengkel mobil dan rumah pribadi di beberapa tempat di Kota Kretek.

Pria kelahiran Jepara 4 Mei 1956 itu saat ini masih menerima permintaan gambar rancangan bangunan. Namun, intensitasnya tidak sebanyak saat masih muda.
Pria kelahiran Jepara 4 Mei 1956 itu saat ini masih menerima permintaan gambar rancangan bangunan. Namun, intensitasnya tidak sebanyak saat masih muda.Sambil menggambar, dirinya kerap iseng-iseng membuat miniatur gedung dan rumah. Hal itu dilakukan untuk mengisi waktu luang dan mempraktikkan keinginannya untuk tetap berkarya. Bedanya dikemas menjadi miniatur.Di kediamannya dia memiliki 100-an miniatur bangunan. Terdiri dari miniatur rumah dan gedung-gedung.”Saya senang desain. Mulai menekuni di tahun 2012 an. Saya menggunakan bahan yang tidak terpakai seperti kardus, kayu, triplek, bambu, dan kertas," terangnya.Berbagai skala ukuran miniatur dibuatnya. Di antaranya skala 1:200, 1:150, 1:100, 1:20, dan lainnya.”Paling cepat seminggu satu karya. Sedangkan miniatur yang rumit butuh waktu sampai 1,5 bulan. Karena kan hanya untuk selingan saja sebatas hobi dan tidak untuk dijual," imbuhnya.https://youtu.be/QXPmD0RNacQReporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler