Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Salah satu caranya yakni menggunakan jeruk nipis. Hal tersebut dikatakan Dodi Wiranto, Pamong Budaya Ahli Muda BPSMP Sangiran saat menjadi narasumber Sosialisasi Museum Situs Purbakala Patiayam di Hotel @Hom Kudus, Senin (16/11/2020).

“Jeruk nipis itu mengandung asam sitrat yang memiliki kemampuan untuk mengikis sedimen yang terdapat pada permukaan fosil. Jeruk nipis itu relatif aman dan tidak merusak fosil tersebut. Dan bagi konsevatorya juga aman, karena dari bahan alam,” katanya.

Prosesnya sendiri, lanjut Dedi, jeruk nipis yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian, kemudian diperas. Setelah itu, hasil perasan tersebut, bisa dilulurkan ke permukaan fosil yang akan dibersihkan.

Kemudian ditunggu beberapa saat agar cairan tersebut merasuk pada sedimen yang akan dibersihkan.

“Lalu setelah meresap pembersihan kerak atau sedimen bisa menggunakan bantuan kuas, dental tool ataupun pisau tatah,” ujarnya.

Selain itu, untuk konservasi penyambungan fosil yang ketika ditemukan tidak utuh (menjadi beberapa bagian) bisa menggunakan lem alami atau gondorukem yang diambilkan dari getah pohon pinus atau damar.

Baca: Warga di Sekitar Patiayam Diajak Selamatkan Fosil yang Ditemukan
Baca: Warga di Sekitar Patiayam Diajak Selamatkan Fosil yang DitemukanPihaknya juga sebelumnya sudah mencoba dengan bahan alami lainnya yakni lem gelatin dan anchor yang terbuat dari binatang. Dari uji coba yang dilakukan terhadap tiga lem tersebut, hasilnya lem gondorukem lah yang paling bagus.“Kami coba semuanya di bahan batu yang punya korositas seperti fosil. Dengan berat yang sama dan cara digantung dengan suhu yang sama. Yang jatuh pertama kali itu anchor, lalu gelatin dan yang terakhir gondorukem lah yang paling kuat,” ungkapnya.Meski demikian, menurutnya lem tersebut tetap lebih kuat lem buatan pabrik. Namun, untuk efek terhadap fosil sendiri akan lebih bagus dengan yang menggunakan bahan alami.“Kalau alteco itu kan kuat, tapi bisa merusak fosil dan fosil tidak bisa dibuka kembali. Jadi barangkali ada kerusakan di dalam fosilnya itu bisa dibongkar dan tidak merusak fosil. Beberapa waktu lalu saat kami ke Museum Situs Purbakala Patiayam saat konservasi kami sudah menggunakan jeruk nipis dan lem gondorukem,” tandasnya. Reporter: Yuda Auliya RahmanEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler