Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Pandemi Covid-19 mengakibatkan beberapa sektor kegiatan masyarakat dibatasi. Di Kabupaten Kudus, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak. Sektor ini tidak diperbolehkan beroprasi selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Wisatawan pun tak ada yang datang berkunjung di tempat - tempat wisata yang ada. Padahal kawasan wisata lereng Pegunungan Muria merupakan gantungan hidup bagi banyak masyarakat di sekitarnya.

Mereka ada yang bekerja sebagai pengelola wisata, pedagang, hingga tukang ojek atau karyawan ditempat wisata. Situasi yang terjadi ini membuat banyak pelaku wisata di Kudus harus ‘mati-matian’ mempertahankan diri.

Diantara mereka bahkan ada yang harus menjual sejumlah asset atau barang-barang berharga demi memenuhi kebutuhan hidup. Salah satunya dirasakan Abdul Rohman warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Pria yang keseharianya berprofesi sebagai tukang ojek wisata dan memiliki usaha kedai kopi tersebut, kini telah menjual motornya. Hal ini terpaksa dilakukannya demi untuk bisa kebutuhan.

"Motor Jupiter MX New yang biasanya buat aktifitas sehari-hari untuk ngojek saya jual, laku Rp8,5 juta karena corona itu. Tabungan juga sudah habis, bisa bertahan buat makan saja sekarang ini sudah Alhamdulillah, " katanya, Minggu, (18/7/2021).

Rencana PPKM yang akan terus diperpanjang, lanjut dia, menjadi salah satu faktor para pelaku wisata tidak bisa menentukan arah atau antisipasi. Sebab kebijakan itu tidak pasti kapan selesainya. Padahal, dirinya dan sebagian besar masyarakat Desa Colo, mayoritas bergantung pada perekonomian disektor wisata.

"Saumpama PPKM nya itu jelas waktunya itu kami bisa menentukan sikap dan arah, selama diberlakukan mau kerjakan apa itu bisa. Tapi ini, waktunya sudah mau selesai PPKM diperpanjang lagi, dan yang paling terasa memang saat PPKM Darurat ini, " imbuhnya.

Pihaknya berharap sektor wisata bisa segera diperbolehkan beroperasi lagi, agar perekonomian masyarakat bisa pulih kembali. Tentunya, pembukaannya kembali harus menggunakan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat.
"Saya siap banget kalau dibuka dan harus ikut aturan. Misal pengunjung dibatasi 30 - 50 persen kami siap dan itu kami maksimalkan serta prokesnya ketat. Ini dampaknya bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga banyak yang terdampak tidak bisa disebutkan satu persatu, "ucapnya.Hal senada juga disampaikan Yusuf, pengelola Pijar Park, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dirinya mengaku sangat terdampak dengan adanya pandemi ini.Bahkan pihaknya juga menjual sebuah mobil honda jazz dan satu motor honda CRF miliknya untuk menutup biaya operasional dan pembayaran karyawan sementara.Tak hanya itu, dari 15 orang karyawan yang bekerja di Pijar Park, delapan karyawan diantaranya dirumahkan sementara.Dan tujuh karyawan yang masih dipekerjakan, diutamakan mereka yang masijh memiliki tanggungan kredit motor atau kredit lain diperbankan. Selanjutnya, mereka juga harus digilir berangkat kerjanya."Kami baru soflaunching 8 Maret 2021 lalu, dan ini harus tutup lagi. Hanya resto yang kami buka dan kami hanya melayani untuk take away. Untuk menutup cost operasional, beberapa pekan lalu saya jual motor CRF Rp 32 juta, dan pekan ini Jazz 2006 saya juga terjual Rp 75 juta, " jelasnya.Kini, pihaknya pun berharap PPKM Darurat tidak diperpanjang di Kudus, sehingga sektor wisata diperbolehkan untuk buk. Dengan begitu, karyawan yang saat ini dirumahkan bisa kembali bekerja."Apalagi Kudus kan memang awal yang terdampak dan ini sudah juga sudah termasuk oranye dan banyak desa yang sudah hijau. Misalkan dibuka untuk wisata dan resto 30 persen dan yang terpenting proses kami siap menjalankan itu, paling tidak bisa sedikitpulih, " tandasnya.Reporter : Yuda Auliya RahmanEditor: Budi erje

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler