Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Anjloknya harga telur ayam membuat para peternak ayam petelur terpukul. Pasalnya, penurunan harga yang cukup tajam tidak sesuai dengan pengeluaran biaya perawatan dan pakan.

Salah satunya perternakan ayam petelur di Desa Lau, Kecamatan, Dawe, Kabupaten Kudus, yang dimiliki Guntur Bayu Pratomo. Ia merasakan dampak anjloknya harga penjualan telur dari kandang. Menurutnya, harga telur sudah berangsur turun semenjak enam bulan lalu.

"Awalnya itu masih 20 ribu per kilogram enam bulanan lalu, dan berangsur turun terus sampai sekarang ini diangka Rp 15 ribu per kilogram dari peternak, dan semenjak itu juga tidak pernah naik," katanya, Selasa (21/9/2021).

Anjloknya harga telur makin diperparah seiring masuknya pasokan telur yang berasal dari wilayah Jawa Timur yang harganya jauh dibawah harga peternak di Kudus.

Apalagi ditambah dengan harga pakan pabrikan yang kini cukup tinggi di angka Rp 335 ribu per 50 kilogram untuk 500 ekor ayam dalam sehari. Lima bulan lalu disebutnya, harga pakan pabrikan masih sekitar Rp 305 ribuan.

"Jadi ada pasokan telur dari Jawa Timur yang masuk lebih murah, yang bisa tambah menekan angka harga dari peternak ayam petelur lokal Kudus. Sering kali, itu jadi perbandingan tengkulak, " ucapnya.

Baca: Harga Anjlok, Rumah Zakat Borong dan Bagikan Telur di BloraAlhasil, peternak pun harus memutar otak agar tidak kelimpungan dengan kondisi yang saat ini tengah tak seimbang itu. Pemilihan pakan oplosan jadi salah satu pilihan peternak untuk bisa tetap bertahan di tengah anjloknya harga telur."Solusinya dengan mengoplos pakan pabrikan dengan pakan lokal satu banding dua untuk bertahan. Tapi misal diberi pakan oplosan produksinya juga kurang maksimal. Itu yang membuat peternak jadi kebingungan," ungkapnya.Guntur yang tercatat sebagai warga Kecamatan Kota itu, kini memiliki seribu ekor ayam petelur di kapasitas kandang 1.500 ekor. Dalam sehari, hasil produksi seribuan ayam tersebut maksimalnya sekitar 45-50 kilogram dalam sehari. Reporter: Yuda Auliya RahmanEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler