Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Sebuah gudang milik CV Rajawali Putri Muria (RPM) yang berada di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah digeruduk warga, Senin (3/10/2022).

Warga menolak aktivitas suara berisik yang terdengar dari gudang hingga adanya debu dari jagung yang diduga berasal dari mesin pengering jagung di gudang tersebut.

Terlebih warga menyebut, gudang tersebut beralih fungsi menjadi industri pabrik jasa penggilingan atau pengeringan jagung.

”Kembalikan jadi gudang lagi semula untuk bongkar muat jagung. Tapi sekarang ada mesin di dalamnya," kata koordinator aksi, Nurwito, Senin (3/10/2022).

Menurutnya, mesing pengering jagung tersebut, mengakibatkan limbah debu bertebaran mengotori rumah warga sekitar. Bahkan disebut warga yang menghirup debu kotor tersebut sakit.

”Anak saya sampai gatal, batuk tidak kunjung sembuh. Makanan jadi kotor tidak bisa dimakan. Kenapa tidak ada solusi untuk hal ini, sudah mendapat peringatan juga tidak direspon," jelasnya.

Baca: Arisan Bodong di Kudus Diusut, Keberadaan Pelaku Ditelusuri
Baca: Arisan Bodong di Kudus Diusut, Keberadaan Pelaku DitelusuriSementara Mandor CV RPM Andreanus Yearlius menjelaskan, pihaknya sudah tidak menyalakan mesin pengering jagung. Pihaknya juga sudah meminimalisir debu yang ada dengan memberikan pelindung plastik di berbagai titik ventilasi.”Kami sudah berupaya menuruti, kami beri terpal agar tidak keluar debu. Mesin dryer juga tidak kami nyalain, sudah kami matiin sejak empat bulan lalu," ujarnya.Ia mengklaim di tempat tersebut sudah tidak ada mesin dryer yang beroperasi, hanya menjadi gudang yang berfungsi sejak sepuluh tahun silam.”Debunya juga tidak terlalu banyak sebenarnya, kami sudah sesuai standar. Kami masih aman jauh di bawah ambang batas yang ditentukan," imbuhnya.https://youtu.be/0xpko3SwwJEReporter: Yuda Auliya RahmanEditor: Ali muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler