Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Pijat kretek atau terapi chiropractic/tairopractic saat ini juga ada di Kudus, Jawa Tengah. Terapi ini menjadi salah astu pilihan masyarakat yang memiliki berbagai macam keluhan.

Bahkan, dari pengalaman terapis sekaligus pemilik 'tairopractickds', Robertus Fega ada berbagai macam keluhan pasien yang pernah ditanganinya selama berkecimpung menjadi terapis dalam tiga tahun terakhir. Mulai syaraf kejepit, vertigo, skoliosis, hingga strok ringan.

”Ada strok ringan yang masih bisa jalan, kami juga pernah nangani orang dengan keluhan penyakit parkinson itu, kadang sampai jalan pun susah, terus sama syaraf kejepit, dan mayoritas orang Indonesia itu keluhanya sakit punggung dan pinggang," katanya, Kamis (13/10/2022).

Mengatasi berbagai keluhan pasien tersebut, bukan cuma hanya instan, perlu beberapa kali terapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal tergantung apa yang dikeluhkan pasien.

”Perlu beberapa kali terapi, biasanya jarak antarterapi maksimal dua pekan. Seluruh tubuh kami terapi semua, dari tubuh, kepala, telinga, tangan, hingga kaki. Dari pasien yang sudah kami pegang, banyak yang sembuh," kata pria yang memiliki tempat praktik di Jalan Gor Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, itu.

Baca: Pijat Kretek yang Viral Juga Ada di Kudus

Praktik yang dikenal 'pijat kretek' ini memiliki batasan usia pasien yang bisa ditangani. Paling muda, yakni pasien balita anak lima tahun. Maksimalnya, pasien yang ditanganinya usai 70 tahun.

”Karena orang tua semakin bertambahnya usia tulangnya semakin kecil, tulangnya juga sudah tidak elastis lagi," ujarnya
”Karena orang tua semakin bertambahnya usia tulangnya semakin kecil, tulangnya juga sudah tidak elastis lagi," ujarnyaDalam sehari, pasien yang datang untuk melakukan terapi pun dibatasi, antara 10-15 pasien saja. Pihaknya pun tak mematok tarif tetap dalam terapi tersebut, hanya ada minimal budget yang harus dipersiapkan pasien.”Minimal tarif sementara waktu ini masih di Rp 100 ribu, maksimalnya sukarela dari pasien. Kami Senin sampai Jumat buka pukul 09.00-17.00 WIB. Khusus hari Sabtu sampai 16.00 WIB," imbuhnya.Salah seorang pasien Hoo Alfando mengaku baru sekali merasakan terapi pijat kretek ini, setelah mendapat saran dari temannya yang badannya terasa enak usai menjalani terapi. Awalnya ia mendaftar di Semarang, namun karena menunggu antrean sampai November, akhirnya disarankan untuk ke praktik yang ada di Kudus.Ia sendiri memiliki keluhan postur tubuh yang agak membungkuk dan kerap terasa pegal di badan.”Setelah diterapi rasanya plong, enak banget di badan lebih enteng dari sebelumnya. Baru kali pertama, ternyata memang perbedaanya banyak sama sebelum di terapi," ucap warga Semarang itu. Reporter: Yuda Auliya RahmanEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler