Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Mereka yakni Nadia Rizka Izzati, Alif Maya Asimatul Asir, Bintang Khoirul Muna, dan Ayudya Putri Tsaqiva.

Alif Maya mengatakan, bioreaktor yang dibuat tersebut bisa digunakan sebagai alternatif oksigen.

Ide tersebut mereka dapatkan dari pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu yang sempat membuat langka tabung oksigen, sehingga mereka pun berinisiatif untuk membuat inovasi ini.

”Bahan baku utama menggunakan seledri, lalu ada buffer fosfat, dan hidrogen peroksida," katanya, Selasa (15/11/2022).

Bioreaktor yang mereka buat ini dibuat dengan menyampurkan hidrogen peroksida dan buffer fosfat. Kemudian diberi enzim katalase yang dibuat dari seledri yang dihaluskan dan sudah diolah dengan cairan buffer fosfat.

”Cara penggunaanya juga mudah, setelah semua larutan tercampur kemudian kemasan botol yang sudah ditutup dan diberikan selang untuk mengalirkan oksigen ke pernapasan," ujarnya.

Baca: Bioreaktor Kapal Selam di Kudus Ini Jitu untuk Atasi Masalah Sampah

Meski demikian, bioreaktor tersebut hanya mampu betahan sekitar 1,5 jam dengan komposisi seledri 40gram.
Meski demikian, bioreaktor tersebut hanya mampu betahan sekitar 1,5 jam dengan komposisi seledri 40gram.”Ini cuma alternatif, bukan untuk pengganti tabung reaksi oksigen. Contoh bisa digunakan untuk antisipasi saat napas terengah-engah saat mendaki gunung, jadi tidak perlu pakai tabung oksigen yang berukuran besar," ungkapnya.Guru pembimbing riset, Munirotun Roiyana mengatakan, riset yang dilakukan oleh anak didiknya awalnya dilakukan pengujian terhadap sejumlah sayuran yang memiliki kandungan peroksisom yang bisa menghasilkan enzim katalase yang bisa diurai menjadi oksigen.Baca: Pena Detektif Buatan Siswa MAN Kudus Sabet Emas InternasionalAda sejumlah pilihan tumbuhan sayuran yang diuji kala itu, seperti wortel, brokoli, hingga seledri.”Dan ternyata kandungan oksigennya yang paling tinggi itu seledri, sehingga akhirnya dipilihlah seledri sebagai bahan baku," ucapnya. Reporter: Yuda Auliya RahmanEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler