Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dalam kegiatan itu, para santri diajak berkeliling di tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan berdirinya Muhammadiyah. Mulai dari Langgar Kidoel Hadji Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta hingga Keraton Yogyakarta.

Selain itu, para santri yang didampingi para guru juga berkunjung di Taman Pintar dan Malioboro Yogyakarta. Di sana, mereka belajar dengan melihat langsung sisa-sisa sejarah berdirinya Muhammadiyah.

’’Santri tidak hanya mendapatkan pelajaran di kelas. Tapi mereka juga harus mengetahui keadaannya sebenarnya di lapangan,’’ kata M Sulhadi, koordinator Outing Class MTs Muhammadiyah Kudus.

Baca: Pesilat MTs Muhammadiyah Kudus Raih 34 Medali di Kejuaraan Pencak Silat UMKU Championship

Ia menjelaskan, selama kegiatan itu ada empat mata pelajaran yang disampaikan, yakni Kemuhammadiyahan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Seperti kegiatan mengunjungi Kampung Kauman, para santri bisa belajar langsung pelajaran Kemuhammadiyahan. Di sana, mereka mengelilingi dan mengenal tempat lahirnya Muhammadiyah.Kemudian, di Keraton Yogyakarta, para siswa juga belajar IPS. Mereka mengenal situs kerajaan Islam yang sekarang masih ada peninggalannya. Keraton Yogyakarta sendiri juga tak lepas dari sejarah berdiri Muhammadiyah.Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dulu merupakan seorang Khatib Amin di Masjid Keraton pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Ia menggantikan ayahnya KH Abu Bakar yang meninggal dunia.’’Sedangkan pelajaran IPA dan Matematika, para santri diajak untuk memahami wahana pembelajaran terapan di Taman Pintar Yogyakarta, yaitu media pembelajaran di Gedung Oval dan Planetarium,’’ kata Sulhadi.Setelah berkeliling di tiga tempat itu, para santri diajak refreshing untuk berbelanja aneka warna kebutuhan di Malioboro Yogyakarta.’’Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan para santri, selain belajar di kelas, juga dapat mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan,’’ imbuhnya.

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler